Recent Posts

Monday, July 28, 2014

yang satu, untuk kau tersebut aku. pada diri sendiri.

ketika batasan sadar disandingkan dengan ilusi juga delusi, mana yang terasa benar? dicari, tapi membantah. diperhatikan, keluhan yang keluar. karena tidak ingin dikerjakan, bukan tidak disanggupi, hatinya yang mulai hitam. apapun tersuguhkan, pencernaannya selalu buruk. peduli pun tidak, apalagi percaya. pikiranmu tidak pernah kalut, yang kau yakini tidak menepis keberadaanmu. yang kau pilih itu salah, kata kitabmu, percaya tidaknya kau, kau serahkan pada sel otakmu. tergeraknya pun karena apa yang di suratkan ada. buat apa kenikmatan dan kesengsaraan. pemuas nafsu kah konsep kenikmatan. di sakiti hingga mendesah itu surga para masochist, kenapa dibiarkan dalam 'kesengsaraan'. butuh, karena moral tidak dimiliki perorangan, apalagi per-kelompokan. membunuh tuhan pun terasa gampang ketika yang teriak atas namaNya menghabiskan masa hidup satu spesiesnya. lampu merah saja dilanggar, bagaimana hukum tuhan yang terambigukan. ketika penyampai kataMu yang pintar bimbang menghadapi perusakMU, apalagi kau yang sel otaknya sudah berkurang jauh dari triliyunan. kau tanya pada ruh mu, apakah ruh mereka tak tersayat membuang sampah sembarangan, membutakan matamu pada satu kelompok dan membiarkan yang baik dimatikan jam tangannya. merayakan pemenggalan kepala diatas ayatMu, karena janjiMu. karena pada alas kakinya terbuat dengan sol yang sama, pembenaran atas apapun yang membawa namaMu. batasan mu pada terrastrial, terbagi 3 lapisan bukan? boleh kau senang dilapisanmu, tidak menoleh malah merusak lapisan sebelum mu. boleh kau membangun ajaranmu, tidak dimana orang dapat melihatmu. pada tempat pulangmu akan riuh dengan keyakinanmu, kau bisikkan pada ruh mu yang kau percayai ada. otakmu sudah lusuh karena berbicara dengan yang tertulis di kitabmu, tidak dapat ditangkap logika.

0 comments:

Post a Comment